cerita buku
politik kemanusiaan
Mencari atau menjadi pemimpin yang ideal bukanlah sesuatu yang mudah, tetapi bukan berarti mustahil. Tentunya banyak pilihan tipe pemimpin yang kita dapatkan akhir-akhir ini, baik dalam lingkup kecil maupun skala besar. Perdebatan dan pilihan ini kembali kepada kita masing-masing, kita dipersilahkan merdeka dalam memilih kriteria pemimpin. Namun pada kesempatan yang baik ini, izinkanlah saya mencoba mengulik-ulik dan mencari hikmah kriteria ideal pemimpin melalui buku Politik Kemanusiaan karya Tamsil Linrung, bab satu bagian pertama, lalu dikelola dari berbagai sumber dan opini pribadi.
Buku ini di awali dengan menafsirkan surah Al-Qasas ayat 26, Allah SWT berfirman yang artinya:
“Salah seorang dari kedua wanita itu berkata, “Ya Bapakku, ambillah ia sebagai orang yang bekerja (kepada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.”
(Al-Qashas {29}: 26)
Dari ayat di atas, penulis menggaris bawahi bahwa kekuasaan itu mempunyai dua asas yang penting, yakni kekuatan (al-quwwah) dan kepercayaan (amanah). Namun, kedua asas tersebut sama-sama kita ketahui bukanlah perkara hal yang mudah. Bisa dibilang “bagai mencari jarum dalam tumpukan jerami”, dan sekali lagi bukan berarti mustahil ya.
Kuat di sini ada yang mengatakan pengalaman memimpin dan berorganisasi, pemahaman terhadap strategi yang akan dipimpinnya, akses jaringan yang bisa mendukung implementasi kebijakan-kebijakan yang kelak diambil, serta variabel pendukung lain guna menjawab ekspektasi masyarakat. Hal ini dijelasakan oleh penulis Tamsil Linrung dalam bukunya Politik Kemanusiaan.
Selain apa yang dijabarkan oleh penulis Tamsil Linrung, saya rasa pemimpin juga perlu memiliki jiwa dan fisik yang kuat. Sebab, tantangan dan hambatan baik secara internal maupun eksternal pasti akan datang kepada seorang pemimpin manapun. Dalam menghadapi hal demikian, sudah pasti kekuatan jiwa atau mental serta fisik sangatlah diperlukan. Nggak banget kan kalau ada pemimpin yang baru ada masalah dikit ngeluhnya berlebihan?
Lebih dalam lagi, seorang yang memimpin orang banyak yang duitnya juga banyak, maka kekuatan finansial juga diperlukan. Walaupun, saya yakin ada juga orang yang finansial belum memadai tetapi bisa kuat untuk tidak korupsi, menyelewengkan jabatan dan lain-lain. Namun, alangkah baiknya hal ini perlu dipersiapkan kalau mau menjadi atau memilih pemimpin kuat. Bukankah ada istilah sedia payung sebelum hujan?
Di samping itu, pemimpin yang kuat saya rasa mesti pula memiliki pola pikir yang kuat. Pemimpin yang pintar memang kita harapkan, tetapi tidak hanya pintar seorang pemimpin seharusnya perlu terus belajar, karena dari hari ke hari pasti ada saja hal baru dari daerah atau orang-orang yang dipimpinnya.
Jika ditarik dari sisi kerohanian, di dalam diri seorang pemimpin perlu juga kuat dalam spiritual. Gunanya tidak lain dan tidak bukan adalah mengontrol seorang pemimpin agar sesuai ajaran baik dari agamanya, maka saya sangat setuju dengan sebuah perkataan setiap pemimpin sebagusnya memiliki amal yaumi. Amal yaumi yang dimaksud adalah amalan harian yang menjadi kebiasaan atau target sehari-hari. Tentu hal ini seharusnya dilakukan atas inisitaif atau setidaknya memiliki guru yang mengingatkan.
Yang tak kalah penting, seorang pemimpin harus memiliki pendirian yang teguh dibandingkan para penyokongnya. Jangan sampai dia seorang pemimpin, tetapi mudah diarahkan oleh para penyokong. Lebih parahnya hanya sebatas boneka, sebab pemimpin sebenarnya ada di balik layar. Oleh karenanya, seorang pemimpin setidaknya punya power untuk merdeka atas kebijakan kebaikan yang ingin dilakukan.
Sementara itu, hikmah atau hal yang bisa saya tangkap dari kata dapat dipercaya dalam ayat tersebut adalah mengacu kepada moral. Artinya, seorang pimpinan yang tidak mudah mengingkari janjinya, bagus akhlaknya, sesuai antara ucapan dan tindakan. Hal ini tentu saja memerlukan kebiasaan secara perlahan-lahan bukan sekedar berperilaku imitatif atau berpura-pura semata.
(Yoga, Padamaran-Agustus 2022)
Editor: RNR, Jakarta-Agustus 2022
Tentang IBC
Selamat datang, teman cerita.
Kami persembahkan wadah berbagi cerita, bermuara dari pengalaman hidup, mimpi dan wawasan serta ilmu pengetahuan sebagai kontribusi sajian terbaik untuk Indonesia.
