MELEPAS
LALU MENEMUKAN
“Selamat pagi, hari pertama solo trip di Bandung”, kataku. Setelah pengalaman unik kemarin malam. Aku bersemangat melakukan banyak hal hari ini, aku sudah membuat daftar/jadwal kegiatan selama 2 hari kedepan.
Agenda hari pertama:
Sewa motor. Hal ini wajib agar lebih fleksibel dan bisa mengunjungi banyak tempat.
Pergi ke Ciwidey.
Makan Bakso Semar di Cihampelas.
Menikmati Keindahan Bukit Bintang
Berlibur ke Bandung sebaiknya menggunakan kendaraan pribadi atau sewa, karena lokasi geografis Bandung yang memiliki daftar wisata jauh dari pusat kota. Aku merencanakan liburan kali ini mencari wisata alam di Bandung.
Mulai dari perjalanan menuju Ciwidey, aku mengunjungi penangkaran rusa. Hal menyenangkan dengan pengalaman baru yaitu memberi makan rusa. Aku tidak sangka ada banyak rusa, dan pemandangan yang indah. Selama 30 menit, aku habiskan dengan menghirup oksigen gratis sebanyak mungkin, sesekali mengabadikan momen menggunakan lensa kamera.
Setelah puas, aku melanjutkan perjalanan melajukan sepeda motor ke Perkebunan teh Rancabali. Disini, aku teringat sebuah Film yang menemaniku sedari kecil yaitu “Petualangan Sherina”.
Ada banyak warung pinggir jalan, untuk sekedar pesan minuman hangat dan jagung bakar. Sejauh mata memandang hanya ada warna hijau, harum kuncup bunga teh, dan kabut tipis. Hal ini sudah sangat menyegarkan mata.
Aku dibuat penasaran dengan restoran kapal pinisi dekat situ patenggang, sebuah danau berlokasi di Ciwidey.
Jujur saja, sebuah konsep restoran yang baru dan menarik untuk dicoba.
Aku menghentikan laju motor untuk rehat di restoran kapal, kemudian pesan secangkir kopi susu hangat dan pisang goreng.
Pengalaman santap siang di atas kapal dengan pemandangan situ atau danau. Hal sederhana, tapi berhasil membuatku tidak berhenti mengucap syukur.
Tujuanku, setelah selesai menikmati Pesona Ciwidey aku harus segera kembali ke Bandung. Lawan kata dingin adalah panas/hangat, bukankah semangkok bakso, seblak, atau mie kocok sebagai pilihan terbaik untuk memberikan kebahagian melalui citarasa makanan khas Bandung. Aku merindukan bakso semar di jalan Cihampelas. Warung bakso yang memiliki khas tersendiri menjadikan tempat wajib dikunjungi ketika ke Bandung.
Aku bersemangat ke destinasi selanjutnya yaitu bukit bintang, melihat Kota Bandung dari atas Bukit. Berteman dengan temaram lampu malam, meskipun polusi cahaya. . Jauh didalam hati ingin bisa menikmati bintang dengan sesungguhnya tanpa bantuan alat. Secangkir coklat hangat, sebagai temanku malam ini.
Malam yang aku tunggu beberapa bulan terakhir, aku ingin melonggarkan ikatan yang menjadi beban, atau tanggung jawab atas sebuah peran. Bukan bermaksud lari dan tidak pernah kembali, akan tetapi memberi jeda sehingga aku bisa membaca kalimat secara utuh.
Melakukan refleksi atas diri sendiri dan kehidupan dari atas bukit, sebuah momen mahal bagiku. Saat inilah, segala pemikiran liar, ide, atau mencoba melihat masalah dari sudut pandang yang baru.
Aku mulai bermonolog melalui tulisan sehingga menjadi Jurnal Kehidupan, bahwa aku sudah melewati fase atau menuju babak baru dalam hidup.
“Raina, apa kabar? Ada apa yang membuatmu harus menyendiri ke Bandung?”, isi tulisan di baris pertama.
“Apakah mencintai akan harus sulit dan rumit seperti sekarang?”, pertanyaan muncul.
“Bagaimana jika seseorang seseorang hidup tanpa cinta?”, lanjutku.
Dalam keheningan malam, aku menenangkan diri sembari mencari jawaban yang tepat.
“Cinta adalah sebuah kata kerja yang perlu diusahakan, butuh komitmen serta konsistensi dalam menjalankannya.
Dicintai dan Mencintai, hal yang tarik-menarik melibatkan orang lain, akan memberikan sebuah tanggung jawab baru bagi pelaku yaitu pembuktian.
Cinta yang salah bukan tujuan akhir, tidak ada yang menginginkannya. Seringkali, tanpa di sadari aku melihat orang dicintai dan mencintai, dengan cara yang salah. Akan tetapi, validasi benar atau salah, salah satu tolak ukurnya adalah tujuan hidup.
Nilai benar atau salah, akan menimbulkan perbedaan serta pro-kontra dalam kehidupan.”
“Sungguh sangat menarik”, ujarku. Aku sangat senang dengan hasil pemikiran baru dalam tulisan.
Sepertinya aku merasakan perasaan sedikit lebih baik sekarang.
“Barangkali, aku belum bisa mencintai orang lain secara utuh karena aku belum selesai dan mendapatkan arti cinta yang lebih mendalam. Arti cinta terhadap Tuhan dan diri sendiri, karena aku belum menemukan tujuan hidup yang aku cari selama ini.”
“Dimalam dingin tapi penuh kehangatan dalam hati, aku melepaskan cinta yang salah, berhenti berharap akan dicintai serta mencintai dengan cara yang salah.
Hal ini, meskipun menjadi hal baru yang terasa sulit ketika menjalaninya, tapi demi tujuan hidup yang patut diperjuangkan setiap harinya”.
“Aku rasa, aku bisa dan akan baik-baik saja”, ucapku dengan penuh semangat sebagai penutup tulisan malam ini.
Aku kembali ke penginapan yang berlokasi di Dago Pakar dengan perasaan ringan, keputusan kembali melepaskan sebagai pilihan yang tepat bagiku.
Bagiku melepaskan, mengandung dua arti yaitu melepaskan secara fisik, pikiran atau keduanya. Aku memilih melepas melalui keduanya.
Tidak terasa, pagi ini telah memasuki hari kedua aku berada di Bandung. Nanti malam aku harus kembali ke Jakarta, menggunakan kereta Argo Parahyangan.
Agenda selanjutnya adalah
Makan di Lawangwangi Dago
Membeli cheesecake di Cizz Cheesecake & Friends
Menyusuri Jalan Braga dan Asia Afrika
Menikmati alun-alun kota Bandung
Membeli oleh-oleh di Kartika sari
Mengembalikan motor, lalu ke Stasiun
Aku keluar dari hotel pukul 12.00, tujuan awal yaitu Lawangwangi. Lawangwangi adalah sebuah cafe yang berlokasi di Dago, aku menyukai suasana sejuk dan konsep cafe ini. Tempat makan yang tidak hanya menjual makanan tapi juga seni didalamnya.
Bagiku restoran yang cukup “mahal” tapi sangat sebanding dengan apa yang ditawarkan sehingga peminat atau pembelinya akan selalu hadir, salah satunya aku.
Setelah menyelesaikan sarapan sekaligus makan siang disana selama 1 jam, aku melajukan sepeda motor ke tengah kota lalu ke arah Batununggal. Aku sangat merekomendasikan pengalaman membeli cheesecake dari toko ini. Toko cheesecake yang berdiri sejak tahun 2004 hanya ada 1 toko di kota Bandung, tidak seperti toko roti lain yang memiliki banyak cabang, dan bangunan besar. Cizz Cheesecake & Friends hanya ruko kecil di jalan laswi, aku harus berhati-hati agar tidak melewatinya dan harus putar arah yang cukup memakan waktu.
Aku membeli sepotong Mix fruit cheesecake, lalu chocolate cheesecake, dan terakhir triple mousse cheesecake sehingga menjadi satu kotak yang akan aku bawa dan nikmati nantinya.
Akhirnya setelah penantian lama untuk menikmati menu cheesecake dari toko ini, aku lanjut ke Jalan Braga dan Asia Afrika. Disini aku hanya sekedar menikmati pedestrian kota Bandung seperti turis lainnya. Melihat banyak sekali cosplayer menjadi action figure, atau public figure lainnya. Aku tidak cukup percaya diri untuk berfoto bersama, hanya menikmati momen dan diabadikan dalam lensa kamera.
Melakukan ibadah sholat ashar di Masjid Agung Bandung yang sangat terkenal, bersebelahan dengan alun-alun kota yang selalu ramai ketika menjelang sore hari. Tempat umum yang terbuka untuk masyarakat dengan banyak tempat duduk di sudut area. Disinilah aku mulai menikmati makan cheesecake di tengah keramaian orang yang mulai berdatangan untuk menghabiskan waktu bersama keluarga, dan berkumpul di sore hari.
Tanpa aku sadari mata yang menangkap sepasang suami istri lansia dengan rambut yang telah memutih. Mereka menikmati senja dengan sang istri yang memperhatikan suami mengunyah atau menikmati makanannya. Melihat sang suami dalam diam, kemudian tersenyum, sang suami membalas senyum yang tak kalah cerah. Dari jarak yang cukup aku bisa merasakan cinta besar dari satu sama lain.
Rasa penasaran yang terlampau besar, “kenapa sang istri tidak ikut makan?”, tanyaku dalam hati. Padahal di hadapan istri telah terhidang siomay kecap tanpa saus kacang.
“Apakah harus sebesar itu rasa hormat istri terhadap suami? Sehingga makan harus menunggu suami selesai”, menambah pertanyaan.
“Apa yang terjadi diantara mereka berdua?”, kebingungan yang menimbulkan rasa penasaran.
Akhirnya dengan cukup berani aku perlahan mendekati mereka.
“Selamat sore, Bapak dan Ibu. Punten saya tidak bermaksud mengganggu waktunya berdua”, akhirnya aku berhasil menyapa pasangan ini.
“Sore neng, iya gak apa-apa neng. Ada perlu apa ya neng?”, jawab sang suami yang sejenak berhenti mengunay makannya.
“Sebelumnya perkenalkan saya Raina dari Jakarta Pak, saya sebenarnya penasaran. Dari tadi saya lihat dari sana, kok si Ibu tidak ikut makan siomanya bareng Bapak?”, tanyaku.
“Muhun teh, Ibu harus tunggu si Bapak dulu yang selesai makan”, jawab si Ibu dengan senyum tapi tidak bisa berhenti menatap si Bapak.
“Loh, kalau boleh tau kenapa bu? Padahalkan lebih enak makan siomay saat masih hangat”, ucapku sedikit sok tahu, tapi bukankah makan siomay selagi hangat itu lebih nikmat ketimbang dingin.
“Iya karena Ibu harus menunggu sampai Bapak selesai makan agar bisa bergantian menggunakan gigi palsu yang sedang Bapak gunakan untuk mengunyah sekarang”, jawab sang Ibu dengan santai.
“Masya Allah”, saya langsung terdiam dan tidak bisa mengucapkan sepatah katapun selain memuji nama Tuhan Yang Maha Besar.
“Saya dan Ibu telah menjalani bahtera rumah tangga selama 30 tahun, anak kami sudah menikah dan memiliki kehidupan masing-masing”, kata si Bapak.
“Hanya kami berdua yang saling memiliki saat ini, saya sudah menawarkan Ibu untuk membuat gigi palsunya sendiri tapi Ibu menolak. Alasan Ibu ingin mencari ridho Allah dari rasa cinta dan berkasih sayang dengan Bapak”, tambah si Bapak dengan menjelaskan lebih dalam.
“Sebenarnya, Ibu hanya ingin punya lebih banyak waktu bersama Bapak, dengan menunggu Bapak selesai makan maka Ibu memiliki kesempatan melihat wajahnya, mendoakan kebaikan untuknya, dan bersyukur karena Tuhan berbaik hati mempertemukan kami hingga saat ini”, jawab si Ibu yang terlihat sangat puas dengan kalimatnya barusan.
Menemukan cinta yang tepat, dengan orang yang tepat, disaat waktu sangat tepat. Hal ini merupakan akumulasi dari perjuangan dan doa dari mereka berdua. Aku tidak mengetahui perjuangan seperti apa yang telah mereka lalui bersama hingga mencapai rasa cinta sekarang, sejujurnya aku sangat penasaran dan ingin tahu.
Pertemuan dengan kedua pasangan yang memberikan suntikan semangat baru untuk aku menjalani kehidupan, berdoa menemukan orang yang tepat, berjuang dengan cara yang baik dan membangun cinta bersama dalam Ridho-Nya.
Tidak terasa aku menghabiskan waktu satu jam bersama mereka, berkenalan, bersenda gurau, aku ikut menunggu Bapak dan Ibu hingga selesai makan kemudian mereka berdua di jemput pulang. Kemudian tepat pukul 17.00, aku pergi ke Kartika sari membeli oleh-oleh khas kota Bandung seperti Pisang Bolen Coklat keju, Almond Cookies, dan Brownies Coklat.
Setelah selesai mengembalikan motor dan berada di stasiun aku harus menunggu kereta berangkat ke Jakarta pukul 19.00.
Penulis: Rahma Ramadhan
Jakarta, 25 Mei 2023
Tentang IBC
Selamat datang, teman cerita.
Kami persembahkan wadah berbagi cerita, bermuara dari pengalaman hidup, mimpi dan wawasan serta ilmu pengetahuan sebagai kontribusi sajian terbaik untuk Indonesia.
