Bajang Sasak Pejuang Literasi Lombok
Kesempatan kali ini, IBC akan bercerita perjuangan Kak Akmal. Kak Akmal atau Bajang Sasak begitulah dia akrab dipanggil. Pemuda yang lahir dan berasal asli dari suku Sasak. Seorang kurir buku dari tanah Lombok. Tahun 2020 lalu, Indonesia Berbagi Cerita berkesempatan mendengarkan cerita dan menjadi satu-satunya platform pertama yang diperkenankan untuk mewawancarai perjalanannya sebagai kurir buku dan pegiat literasi. “From Zero Not To Be Hero” inilah motto hidupnya. Baginya peduli itu bergerak, peduli itu tidak diam, peduli itu tidak perlu harus semua orang tahu, selalu memegang prinsip nol disetiap perjalanannya, karna baginya selalu merasa nol dan bukan apa-apa adalah caranya memotivasi diri agar tetap berjalan dengan rendah hati tanpa perlu harus terjamah dan dikenal banyak orang.
Setelah tamat SMA, sekitar tahun 2009. Dalam kesehariannya Bajang Sasak bekerja dibengkel pada pagi hingga siang hari, dan menjadi pedagang asong di Pelabuhan Lembar Lombok pada malam hari. Saat itu, di sela-sela aktivitasnya menjelang sore dan diwaktu libur, Bajang Sasak sering memperhatikan keadaan sekitar tempat tinggalnya. Terkhusus pada anak-anak.
Dia menyadari bahwa anak-anak disekitar tempat tinggalnya kehilangan waktu bermain dan belajar ketika usai bersekolah. Mindset para orang tua dilingkungan tempat tinggalnya berfikir bahwa pendidikan hanya berlaku ketika anak-anak berada disekolah saja, setelah usai bersekolah maka anak-anak harus melakukan aktifitas seperti kesawah dan membantu orang tua mencari nafkah.
Tidak ada main, mengerjakan PR sekolah, dan tidak ada belajar setelahnya. Dari sanalah awal mula keresahan itu timbul dalam dirinya.
Melihat dan menyadari bahwa anak-anak kehilangan waktu bermain dan belajar seusai sekolah karena harus bekerja bersama orang tuanya masing-masing. Inilah yang menjadi latar belakangnya tergerak untuk memulai dengan menjadikan teras rumahnya sebagai tempat singgah. Leleah Baca begitulah Dia menamainya. Bajang Sasak berinisiatif mengumpul dan mengajak anak-anak sekitar tempat tinggalnya untuk datang ke teras rumahnya. Awalnya, Dia membuat teras rumah seolah seperti taman bermain, permainan-permainan tradisional dan sederhana pun diadopsi untuk memikat hati anak-anak, seperti patok lele, jaga benteng sampai membuat layang-layang. Tanpa memperhatikan dan belum begitu mengenal soal literasi sebelumnya, melalui permainan-permainan itu rupanya tanpa sengaja Bajang Sasak mulai menularkan literasi ke dalamnya. Dengan buku ala kadarnya, yang Dia pinjam dari perpustakaan tempatnya dulu bersekolah dan menyisihkan sebagian dari penghasilannya bekerja. Bagi mereka yang kalah dalam permainan maka hukumannya adalah menuturkan cerita, dan bagi mereka yang memenangkan permainan maka mereka menyimak ceritanya. Dengan itulah anak-anak mulai diajak mengenalkan buku dan cinta akan membaca.
Jangan jadikan halangan itu sebagai batu sandungan, tapi jadikan halangan itu adalah motivasi untuk memperkuat sejauh mana niat dan keyakinan untuk melangkah terus maju
Yakinlah bahwa halang dan rintang itu telah ada solusinya, hanya tinggal bagaimana kita bergerak. Dan ketika bergerak selalulah memegang prinsip nol, dengan itu kita akan terus menyenangkan. Dari nol tidak untuk jadi pahlawan.
Akmal Bajang Sasak
Sumber : wawancara zoomeeting tim IBC 2022
Penulis : Roca Marsal/2022
Tentang IBC
Selamat datang, teman cerita.
Kami persembahkan wadah berbagi cerita, bermuara dari pengalaman hidup, mimpi dan wawasan serta ilmu pengetahuan sebagai kontribusi sajian terbaik untuk Indonesia.
