Menelaah TUA

Menelaah TUA

Aku menceritakan sebuah keresahan hati yang muncul, resah dengan kata “tua” yang sering aku dengar akhir-akhir ini.

 

Selamat menikmati, cerita inspirasi yang berasal dari keresahan hati.

Ada yang mudah beranggapan dirinya sudah tua. 

Ada juga yang merasa dirinya tak pernah tua.

Tua sendiri bermakna sudah lama hidup, lanjut usia (tidak muda lagi).

 

 “Aku sudah tua”. Tepatnya cukup tua untuk berada pada standar yang akhir-akhir ini dibuat oleh manusia. Seolah usia tertentu menjadi acuan lazim sebagai kriteria hidup yang baik dan benar.

“Usia 20an tahun harus mencapai 100 juta pertama,” kata manusia. “Usia 25 tahun harus menikah dan punya anak,” ujar manusia yang lainnya. “Usia 35 tahun harus sudah ada dana pensiun,” timpal manusia lainnya. Aku ternyata melampaui usia itu semua. Aku manusia pecundang yang terkekang standar manusia.

 

Aku nampaknya benar-benar sudah tua. Fisik ku dari luar terasa segar, namun yang dirasa di dalam lemah tak berdaya. Kaki ku tak akan lagi sanggup berjalan ke arah warung di ujung jalan. Aku lebih nyaman rebahan. Aku mudah lupa. Bahkan mengingat nama 4 anak kucing peliharaan pun aku lupa. Aku tak lagi muda.

Diriku yang lain berkata, “Aku tak pernah tua”. Buktinya aku masih dianggap muda oleh manusia yang semasa hidupnya terburu-buru mengambil keputusan. Dianggap junior oleh kalangan senior yang lebih dulu mencoba. 

 

Aku jadi punya banyak waktu dan kesempatan untuk belajar. Aku jadi punya banyak pengalaman. Aku jadi tidak terbatas. Aku jadi lebih bebas.

Bukti lainnya adalah bahwa otak manusia ternyata tidak pernah menua. Dia akan selalu mengalami perkembangan dan pertumbuhan, bahkan diperbaharui sesuai ketentuan alamiahnya.

Berarti aku benar-benar tak pernah tua. Selalu punya jiwa yang bergairah. Selalu dapat berubah, berkembang, dan menjadi tangguh sejauh menggunakannya secara tepat.

Jadi apa “Aku sudah tua” atau “Aku tak pernah tua”?

 

Apapun itu, tentang tua, tertua, ketuaan atau menua hanyalah cara memandang. Kamu tidak harus mengambil mentah-mentah apa yang orang nilai. Kamu juga tidak perlu susah-susah menjadi apa yang orang lain inginkan. Kamu hanya harus dan perlu bersikap sebagaimana mestinya, tanpa terbebani dengan energi negatif yang kerap kali muncul mengganggu.

Kamu tidak bisa tidak menjadi tua,
tetapi Kamu tidak harus menjadi tua

Penulis: Eric Rahman

Editor: Rahma Ramadhan

Jakarta,  4 Juni 2023

Tentang IBC

Selamat datang, teman cerita.

Kami persembahkan wadah berbagi cerita, bermuara dari pengalaman hidup, mimpi dan wawasan serta ilmu pengetahuan sebagai kontribusi sajian terbaik untuk Indonesia.