Menurunkan Ekspektasi

Saya dulu termasuk orang yang mementingkan pendapat orang lain sepenuhnya, bahkan orang lain menjadi prioritas dalam mengambil keputusan. Memang terkesan baik, tetapi sebenarnya kurang bagus bagi diri sendiri. Sebab, saya tidak bisa menyenangkan semua orang, tugas saya atau kita secara umum hanyalah melakukan sebaik mungkin dengan mempertimbangkan banyak hal, setelah itu kembali ke banyak orang mau senang atau tidak.

Pepatah arab menyatakan bahwa:

Ridho an naas, ghoyatun laa tudrak.

Kita tidak mungkin meraih kerelaan semua orang.

 

Jangankan kita manusia biasa yang memiliki dosa, salah dan khilaf. Rasulullah SAW saja masih banyak orang yang tidak suka, bahkan membenci beliau hingga kini. Padahal, Rasulullah sudah meninggal kurang lebih seribu tahunan yang lalu. Jadi, sudah jelas tugas kita bukan menyenangkan banyak orang, tetapi berperilaku baik versi kita masing-masing asalkan tidak merugikan diri sendiri, orang lain dan juga aturan yang berlaku. Di sinilah kita memerlukan satu sikap yang saya rasa cocok untuk membentingi diri dari kebiasaan meletakkan kebahagiaan di orang lain. Sikap tersebut adalah sikap mengurangi ekspektasi.

 

Mengurangi ekspektasi yang saya maksud adalah sikap atau cara mengurangi ekspektasi tinggi sebelum melakukan atau telah melakukan segala sesuatu. Saya sendiri beberapa bulan terakhir melaksanakan kebiasaan seperti ini. Di mana sebelum saya bertindak, saya berbicara dengan diri sendiri, “jika ada kemungkinan terburuk, maka siap menanggung semuanya.” sambil membayangkan segala kemungkinan terburuk yang ada di pikiran saya. Terkesan seperti pesimis, tetapi ketika saya menerapkan sikap seperti ini, saya malah menjadi orang yang jauh lebih bahagia. Alasannya sederhana, saya tidak menaruh harapan dengan hasil. Jika gagal, saya sudah menyiapkan diri. Jika berhasil, maka rasanya bahagianya lebih terasa karena hasilnya melebihi ekspektasi yang saya pikirkan.

Hidup terasa lebih menyenangkan fokus kepada proses bukan kepada hasil. Bukankah hasil sebenarnya tidak bisa kontrol seutuhnya? Bukankah pula terlalu memikirkan apa yang belum tentu kita dapatkan menghabiskan tenaga dan waktu? Jadi, gara-gara inilah yang membuat saya sebelum melakukan apapun mengurangi ekspektasi dan fokus kepada apa yang bisa saya kontrol bukan apa yang tidak bisa kontrol. Selain itu, saya juga tidak takut dan was-was kalau dicaci maki, dihina ataupun dihujat lewat kata-kata, sebab sekali lagi saya sudah meletakkan kebahagian itu pada proses dan ekspektasi yang dikurangi dalam titik yang terendah. Namun, hujatan di sini kepada saya bukan orang sekedar apalagi masalah agama, itu beda cerita lagi. Kalaupun ada yang baik dari omongan mereka ya ambil, tapi misal tak sama sekali ya abaikan saja. Terkadang ada hal yang tidak perlu kita respon, melainkan cuma sikap bodo amat.

Sikap mengurangi ekspektasi ini sudah saya rasakan sendiri manfaatnya. Salah satu manfaatnya yang saya rasakan seperti tidak membading-bandingkan hasil saya dengan orang lain, lebih ikhlas, lebih bahagia dan tidak stress dengan pencapain orang lain serta tidak minder. Memang setiap orang punya jalan hidup masing-masing yang membuat dia mendapatkan formula tersendiri dari kejadian-kejadian di masa lalu yang pernah ia alami untuk menghadapi hidup di masa depan, termasuk saya. Itulah kenapa saya berani mencoba berbagai kegiatan dan tidak mementingkan omongan orang lain, kalau kemungkinannya cuma gagal aja ya nggak masalah.

Salah satu hal yang saya lakukan tanpa memikirkan omongan lain adalah menulis di facebook. Awalnya banyak orang yang bertanya bahkan mencemooh dengan kata-kata kenapa nulis di facebook panjang benar, sok penulis, sok bijak dan lain sebagainya. Jawaban saya cuma sederhana, bodo amat. Nggak ngerugiin orang juga. Belum lagi ketika saya membuat akun youtube, blog dan nerbitin buku. Wah, makin banyak yang nyinyir. Tapi lagi-lagi saya cuma bisa ngomong bodoh amatlah. Memang ada gagalnya malah banyak banget gagal. Namun, kegagalan satu ke gagal lainnya membawa hikmah untuk berkembang. Saya memang senang menganalisis resiko dan peluang, tapi saya bukan orang yang takut gagal apalagi takut mengambil resiko.

Saya sering berbicara kepada diri sendiri, kalau saya sebenarnya tahu kapan harus berhenti, jeda, bahkan ngegas menjalankan apa yang sedang diinginkan. Pertajam analisa dan intuisi.

Oh iya, ada hal juga yang mesti dibahas mengenai mengurangi ekspektasi yakni soal ibadah dan agama. Saya pribadi tetap mengharapkan surga, pahala dan balasan amal kebaikan. Bukan berarti saya berpendapat mengurangi ekspektasi menjadi tidak optimis masalah akhirat, saya tetap mengharapkan hal itu. Cuma proses dalam mencapai keinginan jauh lebih penting, dan perlu dicatat pula bahwa berniaga dengan Allah SWT tidak akan rugi sama sekali, asalkan kita sungguh-sungguh menjalankannya.

Penulis: Yoga Saputra

Editor: Rahma Ramadhan, Mei 2023

Tentang IBC

Selamat datang, teman cerita.

Kami persembahkan wadah berbagi cerita, bermuara dari pengalaman hidup, mimpi dan wawasan serta ilmu pengetahuan sebagai kontribusi sajian terbaik untuk Indonesia.