Apa arti Bahagia (?)
----
Aku tiba di Bandung pukul 22.00, aku sendirian membawa ransel yang berisi peralatan “Liburan” selama 2 hari.
Perut yang telah meminta jatah makan, hingga akhirnya aku putuskan membeli makan di pinggir jalan.
“Pak, pesen nasi goreng 1 ya. Makan disini, dan gak pedes sama sekali”, kataku setelah berhenti di depan gerobak nasi goreng dekat stasiun.
Bukan kali pertama aku ke Bandung, dan sebuah kota kecil yang selalu memberikan cerita tersendiri.
Aku beruntung karena malam ini tidak terlalu ramai tapi tidak bisa dikatakan sepi.
Biasanya kesempatan bagus yang aku gunakan untuk mengobrol, ya sekedar obrolan ringan.
“Bapak, sudah lama jualan disini?”, aku mulai membuka percakapan.
“Alhamdulillah baru teh, sekitar 2 tahun. Tetehnya dari mana?”, beliau bertanya balik.
“Saya dari Jakarta Pak, wah ternyata masih baru ya.”, jawabku.
“Eh si tetehnya sendirian dari Jakarta? Mau liburan atau ada pekerjaan di Bandung?”.
“Ternyata si bapaknya cukup ramah untuk bisa diajak ngobrol”, ujarku di dalam hati.
“Saya mau liburan ke Bandung, hmm kalo rame takut disangka mau tawuran Pak jadi sendirian aja”, jawabku sambil bercanda.
“Aduh si teteh meni lucu pisan, masa iya cewe cantik gini bisa buat tawuran”, tawa lepas menjadi respon dari si Bapak.
“Pak, saya boleh tanya sesuatu gak?”, saya bertanya sambil melempar senyum tulus.
“Wah, meni izin sagala. Iya boleh atuh, silahkan mau tanya apa?”, kata Bapak Tukang Nasi Goreng.
“Pak, kalau saya boleh tau “Apa arti Bahagia untuk Bapak?”, kataku.
Sejujurnya ada rasa khawatir akan respon beliau. Disini overthinking mulai berlarian di kepala.
-------
“Arti bahagia untuk saya mah teh, ketika bisa kirim uang ke Istri dan anak saya di kampung”, jawabnya.
“Eh maaf ya Pak, saya nggak bermaksud membuat Bapak sedih. Jadi, sekarang Bapak dan Ibu tidak tinggal satu rumah ya”, ungkapku.
“Iya teh, Istri dan keluarga saya di Garut. Saya sendirian di Bandung ya jualan nasi goreng ini. Ih gak apa-apa kok teh, saya selalu bahagia ketika bisa mengirimkan uang jerih payah saya ke mereka. Apalagi momen saya ketemu mereka. Rasanya lelah saya hilang dan hal itu menjadi arti bahagia untuk saya”, jawab si Bapak.
Aku sejujurnya merasakan haru atas jawaban si Bapak, ternyata perjuangan seorang suami sekaligus ayah mencari rezeki untuk keluarganya.
“Menurut kamu, apa itu arti bahagia?”, tanya seorang lelaki dari arah belakang.
Aku tidak tahu siapa lelaki tersebut karena dia datang dari belakang posisi aku duduk saat ini.
Sepertinya aku harus segera menjawab karena Si Bapak Tukang Nasi Goreng terlihat penasaran.
“Arti bahagia adalah ketika aku tidak merasa sedih, dan aku bisa bersyukur setiap harinya”, jawabku sekenanya.
Aku tidak menyangka akan mendapat pertanyaan balik yang sama persis.
Kemudian, aku berbalik sambil bertanya “Nah pertanyaan yang sama, apa arti bahagia buat si mas-nya?”.
Aku tidak bisa menyembunyikan keterkejutan di wajahku setelah mengetahui siapa lelaki yang ikut dalam percakapan ini.
-------
“Hmm, pertanyaan menarik. Menurutku, bahagia itu sebuah hal yang bersifat subjektif setiap orang memiliki arti bahagianya sendiri. Kita tidak bisa memaksakan orang untuk memiliki jawaban yang sama, dan itu penyebab jawabannya selalu berbeda”, jawab si mas yang ikut nimbrung.
“Well, a good point”, responku cepat.
“Saat ini, arti bahagiaku bisa ketemu lagi sama kamu. Ini kali kedua pertemuan kita. Tersisa satu kali kesempatan lagi, kemudian kamu harus memberikan nama dan kita bertukar nomor telepon”, jawabnya cepat dan lancar.
Aku yang masih terheran dengan jawaban aneh dari lelaki ini, hanya bisa diam.
“Pak, saya bayar ya dan sekalian sama si mbaknya”, sambil menyerahkan uang Rp. 50.000 kemudian berlalu dengan sangat cepat.
“Astaga dasar orang aneh”, gumamku.
Dibalik keanehan dari lelaki tersebut, pesan cerita yaitu setiap orang berhak dan wajib menemukan arti bahagia versi mereka. Arti kebahagiaan satu sama lain tidak akan sama, dan hal tersebut wajar.
Penulis: Rahma Ramadhan
Jakarta, Mei 2023
Tentang IBC
Selamat datang, teman cerita.
Kami persembahkan wadah berbagi cerita, bermuara dari pengalaman hidup, mimpi dan wawasan serta ilmu pengetahuan sebagai kontribusi sajian terbaik untuk Indonesia.
