Aspirasi jalan
(Antara aku dan Bapak)

Pada masa

kuliah online setahun terakhir ini, kesibukan yang saya jalani banyak dilakukan di dusun yakni kecamatan Pedamaran. Cukup banyak aktivitas yang dilakoni mulai dari kuliah online itu sendiri, belajar dunia kepenulisan, berorganisasi, ngantar bapak mencari rezeki, lalu sorenya dijemput dsb. Pada kesempatan yang baik ini saya tidak membahas keseluruhannya, tetapi hanya satu hal saja dan saya rasa perlu dibagikan yakni tentang aktivitas saya setiap pagi ngantar bapak mencari rezeki lalu sorenya sekitar pukul 2 atau 3 sore dijemput kembali.

 

Alasan saya ingin membahas hal ini, karena ada hal yang menarik serta inspiratif versi saya salah satunya adalah obrolan di atas motor. Ya obrolan di atas motor saat ngantar ataupun jemput bapak pergi ke hutan mencari rezeki, karena kami merupakan anak dan bapak yang satu frekuensi jadinya kami senang untuk ngobrol. Walaupun beliau tidak tamat SD, tetapi obrolan apa pun yang saya sampaikan bapak selalu menyeimbangi. Obrolannya pun beragam mulai dari masalah keluarga, politik, adat istiadat, agama serta bahasan menarik lainnya. Itulah mengapa saya selalu menikmati kondisi di saat saya bisa mengobrol dengan bapak di atas motor karena bapak orangnya asyik bahkan saya rasa beliau adalah duplikat saya kalaupun ada perbedaan hanya sedikit saja. Saya banyak mendapatkan pandangan hidup dari bapak, begitupun sebaliknya. Karena, bapak selalu nyaman ngobrol dengan saya bahkan keluarga di rumah sering bilang kami bukanlah bapak dan anak, tetapi seperti teman.

Salah satu obrolan kami yang pernah dibahas adalah jalan yang hampir setiap hari kami lewati pulang pergi. Lokasi jalannya berada di desa Suka Pulih. Jalan yang cukup penting, karena sering dilalui banyak orang untuk bekerja, sekolah, pergi ke pasar serta aktivitas lainnya. Namun saya merasa jalannya tidak cukup baik, sebab banyak lubang di sana-sini bahkan becek saat hujan turun dan tentu saja mengakibatkan tidak enaknya perjalanan yang dilalui.

Mungkin buat sebagian orang biasa aja dengan kondisi tersebut. Namun berbeda dengan saya sehingga bertanya-tanya mengenai kondisi jalan Suka Pulih arah SDN 1 Sukapulih ini. Dikarenakan keresahan dan rasa penasaran yang cukup tinggi saya mulai bertanya, "Pak, urang lewat dari siko ringam takdo yo dengan banyaknya batu, leak dang hari hujan bahkan cak bekudo iko? Apo aku be ndek banyak rasan cak iko lewo? Hehehe. (Pak orang lewat dari sini risih nggak sih dengan adanya batu, becek saat hari hujan bahkan kayak berkuda ini? Apa aku aja yang banyak tingkah kayak gini? Hehehe.") Tanyaku sambil terkekeh geli sambil mengendarai motor.

Bapak yang saya bonceng diatas motor berangkat menuju hutan menjawab, "namonyo juga lah tebiaso jadi tak pulo ringam, tapi yo misalkan nak diperbaiki tentu bae kami iko galak tapi yo tak tahu kapan lagi jalan iko diperbaiki. (Namanya juga sudah terbiasa jadi nggak terlalu risih, tapi ya misalkan mau diperbaiki tentu saja kami ini mau, tapi ya nggak tahu kapan lagi jalan ini diperbaiki.)" Ungkap sang bapak yang menjawab pertanyaan saya tentang risih, namun beliau malah melintir tentang perbaikan. Tapi, saya sebagai anak bisa mengerti dan paham perasaan bapak bahwa beliau secara tidak langsung berharap adanya perbaikan jalan.

Keinginan bapak yang disampaikan secara tidak langsung, ternyata juga sebuah harapan besar dari teman-teman bapak yang bekerja dan mencari rezeki di dalam hutan. Setelah beberapa kali kesempatan, saya mengobrol dengan teman bapak sambil disempatkan bertanya kembali mengenai jalan. "Mang, menurut kamu jalan yang leman kamu lewati dari arah SD suka pulih sampai ke siko lemak takdo? (Mang, menurut kamu jalan yang sering kamu lalui dari arah SD Suka Pulih sampai ke sini enak nggak?"), tanyaku menelisik. Teman bapak yang tiba-tiba ditanya hal seperti ini kaget tapi tetap menjawab. "Lemak-lemak bae Ga, tapi lemak lagi kalau dibenari 'kan leman aku jawab cak iko kau juga leman nanya hal iko, kali lagi nanyo perihal iko tabok kau hahahaha. (Enak-enak aja Ga, tapi enak lagi kalau diperbaiki 'kan sering aku jawab kayak gini kamu juga sering nanya hal ini, sekali lagi nanya perihal ini kutabok kau hahahaha.)" Jawab teman bapak seraya tertawa geli.

Dari dua percakapan di atas, saya bisa menyimpulkan bahwa mereka merasa sudah terbiasa dengan jalan yang digunakan mereka untuk bekerja ini nggak terlalu bagus, tapi kalau memang ada perbaiki tentu saja hal itulah yang menjadi harapan mereka. Saya pun bisa mengerti perasaan mereka, karena saya yang awalnya merasa risih dengan jalanan yang becek saat hujan, berlubang dan banyak batu-batu kecil kini jadi sudah terbiasa. Namun tetap saja perbaikan jalan menjadi keinginan besar bagi saya serta masyarakat yang sering melalui jalan ini.

Keresahan yang sama dirasakan juga oleh siswa-siswi sebagai pengguna jalan ini, mereka terbiasa melewati jalan untuk pergi dan pulang sekolah. Hal ini tentu menjadi familiar dalam pandangan saya setiap menghantarkan bapak ke hutan, karena aktivitas mereka mengingatkan saya dengan masa-masa sekolah dulu apalagi melihat senyum sumringah mereka setiap pagi rasanya istimewa banget gitu pagi-pagi melihat orang tersenyum. Dari sekian adik-adik sekolah, di antaranya ada-adik SMA Negeri 4 OKI atau dulunya bernama SMA Negeri 1 Pedamaran. Ia juga sering melewati jalan ini. Kebetulan dia cukup dekat dengan saya, karena saya sering ke SMA tersebut untuk ngisi materi Rohis dan dia adalah salah satu anggotanya. Di kesempatan hari Jumat saat rohis berlangsung itulah saya menyempatkan diri bertanya. "Dek, kau 'kan leman melewati jalanan di situ, kiro-kiro lemak takdo jalannyo.(Dik, kau 'kan sering lewat jalanan di situ, kira-kira enak nggak sih jalannya.)", tanyaku ke adik SMA. 

Dengan spontan si adik menjawab.

"Dilemak ka, Kak. Tapi yo sebenarnyo raso iri, kareno dari SMA ke SD 5 dan seterusnya bagus sedangkan dari lewat SMA ke Suka Pulih masih cak itulah. Alang ke tanggung muak jalan. Btw kamu iko kalau pacak bantu ngomong dengan pihak terkait, kamu kalau tak salah mahasiswa Jurnalistik madakhi tak pacak.(Dienak-enakin aja, Kak, tapi ya sebenarnya rasa iri, karena dari SMA ke SD 5 dan seterusnya bagus sedangkan dari lewat SMA ke Suka Pulih masih aja kayak gitu. Ngomong-ngomong kalau bisa kamu bantu ngomong dengan pihak terkait, kamu kalau tidak salah mahasiswa Jurnalistik, nggak mungkin kalau nggak bisa.)", ujarnya sambil membebaniku yang sebenarnya juga nggak tahu atas keputusan jalan tersebut.

"Ye, aku memang mahasiswa Jurnalistik dan belajar masalah ke kejurnalistikan. Namun, aku bukan jurnalis kale. Oke aku balek dulu kesano bye.(Ye, aku memang mahasiswa Jurnalistik dan belajar masalah kejurnalistikan. Namun, aku bukan jurnalis kale. Oke aku pulang dulu bye.)", jawabku terburu-buru pergi, karena setiap kali membahas masalah jalan dia pasti saja minta tolong dengan saya buat ngomong ke pihak terkait.

Sebenarnya bukan si adik SMA itu aja sih. Bapak dan teman-temannya bapak juga sering ngomong kayak gitu dan kata-katanya pun sama 'kamu kan mahasiswa Jurnalistik' lah, aku ini bukan jurnalis cuma mahasiswa Jurnalistik dan aku emang ada sedikit kemampuan buat nulis, tapi sampai saat ini bukan digunakan untuk jadi jurnalis melainkan dunia kepenulisan buku dan penerbitan. Dari sini saya jadi berpikir apakah seorang jurnalis sebegitu hebatnya sampai-sampai mahasiswa Jurnalistik seperti saya aja dimintai tolong oleh banyak orang, soalnya masalah dunia jurnalistik saya belum ada niatan jadi wartawan dan hanya sekedar nulis opini aja di media milik dosen. Namun, kata-kata yang sering masuk ke saya dari orang-orang terdekat membuat saya berpikir jika memang seorang jurnalis sebegitu pentingnya sepertinya aku harus mencoba, karena buat apa ada kemampuan nulis kalau tidak dimanfaatkan. Hitung-hitung mencari pengalaman baru dan tidak hanya fokus di dunia penerbitan buku.

Terakhir, dari tulisan ini saya ingin menyampaikan aspirasi kepada pihak-pihak terkait untuk memperbaiki jalan Suka pulih arah SDN 1 Suka Pulih, karena ini adalah keinginan dan keresahan yang dirasakan oleh banyak orang. Obrolan dan tanya-jawab di atas hanya segelintir saja yang saya masukkan. Sebenarnya masih banyak lagi mulai dari warga yang pergi ke pasar, orang yang sekedar lewat dsb, namun karena keterbatasan waktu dan takut kalau terlalu panjang jadinya cuma tiga orang saja yang saya rasa cukup mewakili saudara-saudara kita yang bergantung di jalan tersebut.

Saya di sini bukan mau menyalahkan pemerintah, sebab saya tidak tahu mengenai siapa yang bertanggung jawab apakah kepala desa, kecamatan, kabupaten atau siapa. Kalaupun saya tahu siapa yang bertanggung jawab, saya juga tidak tahu kenapa alasannya bisa belum dibangun lagi, karena dalam ini saya mau berprasangka baik dengan pihak terkait. Namun, saya juga tidak mau menyalahkan keresahan dan kebutuhan dari masyarakat yang bergantung dan sering menggunakan jalan ini, karena sejatinya mereka memang benar-benar ingin jalan ini lebih baik lagi ke depannya bahkan saking pengennya mereka meminta tolong kepada saya. Padahal, aku mah apa atuh cuma warga biasa yang kebetulan menjadi mahasiswa Jurnalistik serta memiliki kemampuan menulis walaupun sedikit dan itulah yang menjadi penyebab saya menulis perihal ini, karena mereka cukup sering ngomong ke saya tentang hal ini dan saya cuma bisa bantu menulis di Facebook saja. 

Sebelum saya tutup saya ingin menyampaikan bahwa saya rasa bukan Jalan Suka Pulih arah SDN 1 Sukapulih saja yang perlu diperbaiki, akan tetapi jalan raya sebagai infrastruktur desa dan penghubung satu lokasi ke lokasi lainnya.

Dan bagi teman-teman sekalian yang dirasa tulisan ini mengandung unsur-unsur kebaikan, mohon sekiranya dibagikan atau di-tag pihak-pihak terkait mungkin saja warga Suka Pulih atau warga yang sering melewati jalan ini bisa terbantu.

(Yoga, Padamaran tahun 2021 )

P.s: Tulisan telah dipublikasikan dalam Facebook pribadi Penulis, dengan link sebagai berikut:

https://www.facebook.com/100010252030591/posts/pfbid0XQdN4kVimpqXD4SSZ4zCSs3Yb2y4VCFVqPbFXWrpdXqpwWWEvXxGpxxCqNVg6qmal/?app=fbl

Editor : Rahma Ramadhan, Jakarta, Agustus 2022